1) Pengertian Sunnah

Sunnah secara bahasa memiliki banyak artinya, diantaranya adalah السِيْرَةُ الْمُتْبَعَةُ (Suatu perjalanan yang di ikuti). Baik itu perjalanan yang baik maupun yang buruk. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam berikut ini :

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً , فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ , وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً , كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مِنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ .

“Barangsiapa yang memberikan contoh (teladan) perbuatan yang baik di dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari Kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barangsiapa yang memberikan contoh (teladan) perbuatan yang buruk di dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan tersebut serta dosa orang yang mengikutinya (sampai hari Kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam Muslim no 1017, Imam at-Tirmidzi no 2675, Imam Ibnu Majah no 203, Imam Ahmad no 19156 dan 19174]

Adapun Sunnah secara istilah menurut Ulama Ahli Hadits (al-Muhadditsin) adalah

ما أُضِيفَ إلى النبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من قولٍ , أو فعلٍ , أو تقريرٍ , أو صِفَةٍ

Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, atau perbuatan, atau ketetapan nya, atau sifatnya.

Pengertian Sunnah ini lebih umum dari pengertian Sunnah menurut Ulama Ahli Ushul Fiqih yakni :

كُلُّ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا لَيْسَ قُرْآنًا مِنْ أَقْوَالٍ أَوْ أَفْعَالٍ أَوْتَقْرِيْرَاتٍ مِمَّا يَصْلُحُ أَنْ يَكُوْنَ دَلِيْلاً لِحُكْمٍ شَرْعِي

“Segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam yang bukan berupa Al-Quran, baik berupa segala perkataan, perbuatan dan pengakuan (persetujuan), yang patut (baik) dijadikan dalil hukum syar’i (agama).”

Ini adalah pengertian Sunnah menurut Ulama Ahli Ushul (Ushuliyun). Dengan demikian, yang termasuk kedalam pengertian Sunnah menurut mereka hanya perkataan, perbuatan dan pengakuan (persetujuan) Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam yang dapat dijadikan dasar hukum Islam. Jika tidak dapat dijadikan dasar hukum Islam, maka itu tidak termasuk Sunnah.

Kata Sunnah juga banyak dipakai didalam berbagai bidang disiplin ilmu, sehingga banyak memiliki pengertian nya. Seandainya kita tidak memahami istilah Sunnah dalam setiap disiplin ilmu, niscaya kita akan mencampur adukkan istilah Sunnah pada satu disiplin ilmu dengan ilmu yang lain nya.

Dalam ilmu Fiqih, Sunnah menurut Ulama Ahli Fiqih (Fuqaha’) adalah Segala ketetapan yang datang dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, yang tidak termasuk kategori wajib (fardhu), apabila perbuatan tersebut dikerjakan, maka dia akan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan, maka dia tidak berdosa. Pengertian Sunnah ini merupakan salah satu dari hukum taklifiyyah (pembebanan) yang lima, Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh dan Haram. (Insya’Allah, pembahasan nya ada pada materi Macam – Macam Hukum Syariat, sebab disitulah letak pengertian Sunnah yang dimaksud Ahli Fiqih (Fuqaha’)

Dalam ilmu Aqidah, Sunnah menurut Ulama Ushuluddin adalah petunjuk yang dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, baik berupa ilmu, keyakinan (I’tiqad), perkataan maupun perbuatan. Dengan kata lain, Sunnah disini adalah lawan dari Bid’ah.

Dalam ilmu Hadits, Sunnah juga disebut dengan Hadits, Khabar, dan Atsar (Pembahasannya lebih lanjut silahkan merujuk ke kitab Musthalah Hadits).

—oOo—

2) Kehujjahan As-Sunnah

Semua Ulama Sepakat (Ijma’) bahwa apa saja yang datang dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, atau persetujuan yang sampai dengan sanad yang Sah (Shahih dan Hasan), maka wajib bagi kita untuk menerimanya dan mengamalkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِيْنًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” [Q.S Al-Ahzab ayat 36]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوْا اللَّهَ وَأَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلاً

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [Q.S An-Nisa ayat 59]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” [Q.S An-Nisa ayat 80]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا ۚ وَاتَّقُوْا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” [Q.S Al-Hasyr ayat 7]

Dari Miqdam bin Ma’di Kariba Radhiyallahu’anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda :

أَلاَ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ , أَلاَيُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيْكَتِهِ , يَقُوْلُ : ” عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ , وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُ .”
ألا وَإِنَّ مَاحَرَّمَ رَسُوْلُ اللهِ مِثْلُ مَاحَرَّمَ اللهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab (yakni Al-Quran) dan yang seperti Al-Quran bersamanya (As-Sunnah). Ketahuilah, nanti akan ada orang yang kekenyangan duduk diatas sofanya sambil berkata : “Cukuplah bagi mu untuk berpegang dengan Al-Quran (saja), apa – apa yang kalian dapati hukum halal di dalamnya, maka halalkanlah. Dan apa – apa yang kalian dapati hukum haram didalamnya, maka haramkanlah.”
Ketahuilah, sesungguhnya apa – apa yang diharamkan oleh Rasulullah sama seperti yang diharamkan oleh Allah.” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud no 4604, Ibnu Majah no 12, Ahmad no 17194 dan Ibnu Hibban no 12]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda :

إِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَ هُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ

“Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku.” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim no 318 dan 319. Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no 2937 dan 3232]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda :

” كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى , قَالُوْا : ” يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ ” قَالَ : ” مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ , وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى “

“Setiap ummatku akan masuk Surga, kecuali yang tidak mau.” Mereka (Para Sahabat) bertanya : “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan itu?” Beliau menjawab : “Siapa yang mentaatiku, pasti akan masuk Surga dan siapa yang mendurhakaiku, maka sungguh ia telah enggan (tidak mau).” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari no 7280]

Para Ulama juga telah sepakat akan kehujjahan Sunnah.

Imam Abu Hanifah Rahimahullah berkata :

“Apabila hadits itu Shahih, maka hadits itulah madzhabku.”
“Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan khabar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, maka tinggalkanlah perkataan ku.”

Imam Malik Rahimahullah berkata :

“Sesungguhnya saya hanyalah seorang manusia yang bisa salah dan bisa benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Al-Kitab (Al-Quran) dan As-Sunnah, ambillah. Dan yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.”
“Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam kecuali perkataan nya itu ada yang diambil dan ada yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam”.

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata :

“Kaum Muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut, hanya karena ingin mengikuti perkataan seseorang.”
“Apabila kalian mendaatkan dikitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, maka jadikanlah sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sebagai dasar pendapat kalian dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.”

Imam Ahmad Rahimahullah berkata :

“Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada ditepi kehancuran.”

“Janganlah engkau taklid dalam perkara agama mu kepada salah seorang dari mereka. Setiap perkara yang sandarnya kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam dan para Sahabat beliau, maka ambillah. Jika berasal dari Tabi’in, maka seseorang dapat memilih.” (Lihat takhrij ucapan para Ulama ini didalam kitab Ashlu Shifati Shalatin Nabiy Shallallahu’alaihi wa Sallam karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

3) Peran Sunnah Terhadap Hukum Islam

Sunnah (Hadits) merupakan sumber hukum Islam dan dalil hukum Islam yang memiliki fungsi sebagai penjelas (bayan) terhadap Al-Quran, yaitu sebagai berikut :

a. Bayan Taqrir atau Bayan Ta’kid
Maksud nya, Sunnah (Hadits) berfungsi sebagai penguat (taqrir) atau memperkokoh keterangan Al-Quran (ta’kid). Artinya, Sunnah menjelaskan kembali apa yang sudah dijelaskan Al-Quran.

Contoh : Hadits berikut ini.

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ , وَإِقَامِ الصَّلاَةِ , وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ , وَالْحَجِّ , وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam didirikan atas lima perkara (yakni) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang Haq selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, (melaksanakan) ibadah haji, dan puasa dibulan Ramadhan.” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari. Takhrijnya akan disebutkan pada tempatnya]

Hadits diatas ini memperkuat dan memperkokoh keterangan dari al-Quran tentang perintah shalat, puasa dan zakat yang tersebut didalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 43 dan 183 dan ayat lain nya. Juga tentang ibadah haji yang ada didalam Surat Ali Imran ayat 97.

Dengan demikian, hukum – hukum (Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji) tersebut mempunyai dua sumber hukum dan terdapat pula dua dalil dalam pensyariatan nya, yaitu dalil (dasar) yang tersebut didalam Al-Quran dan dalil penguat yang datang dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

—oOo—

b. Bayan Tafsir
Maksud nya, Sunnah memberikan penjelasan secara terperinci pada ayat – ayat Al-Quran yang masih bersifat global (umum), baik yang menyangkut masalah ibadah maupun hukum.

Contoh : misalnya perintah Shalat.
Didalam Al-Quran, perintah Shalat hanya diterangkan secara umum (global), “dirikanlah shalat.” Tanpa disertai petunjuk bagaimana pelaksanaannya, berapa kali sehari semalam, berapa rakaat, kapan waktunya, apa rukun, syarat sahnya dan lain nya. Maka perincian itu ada pada Sunnah, misalnya Sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam :

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِىْ أُصَلِّى

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku Shalat.”[Takhrij nya akan datang pada tempatnya]
Hadits diatas menjelaskan bagaimana tata cara shalat itu dilaksanakan secara benar, sebagaimana perintah Allah Ta’ala didalam Al-Quran.

—oOo—

c. Bayan Takhshish
Maksud nya, Sunnah mengkhususkan ayat – ayat Al-Quran yang masih bersifat global (umum).

Contoh : Misalnya ayat tentang pembagian harta warisan dalam Surat An-Nisa ayat 11 yang bersifat umum, kemudian dikhususkan dengan Sunnah Nabi yang menyebutkan pembunuh tidak mendapatkan warisan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Pembunuh tidak dapat warisan.”

Juga, para Nabi tidak mewarisi harta.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Kami (para Nabi) tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan (dijadikan) sebagai sedekah.” [Takhrij nya akan datang pada tempatnya]

—oOo—

d. Bayan Taqyid
Maksud nya, Sunnah (Hadits) membatasi kemutlakan ayat – ayat Al-Quran. Artinya, Al-Quran memberikan keterangan secara mutlak (menyeluruh), kemudian kemutlakan itu dikhususkan oleh Sunnah.

Contoh : Misalnya hukum tentang potong tangan. Sebagaimana disebutkan didalam Surat Al-Maidah ayat 38 :

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dalam ayat ini, pemotongan tangan pencuri disebutkan secara mutlak (menyeluruh) dengan nama “tangan” tanpa dijelaskan batasan tangan yang harus dipotong. Apakah dari ujung jari sampai pundak, atau sampai siku atau cukup pergelangan tangan saja.

Maka Sunnah datang membatasi kemutlakan ayat tersebut. Hal ini terlihat, ketika ada seorang pencuri datang ke hadapan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dan diputuskanlah hukuman dengan potong tangan, maka dipotonglah tangan nya pada pergelangan tangan nya.

—oOo—

e. Bayan Tasyri’
Maksud nya, Sunnah (Hadits) berfungsi sebagai dasar hukum baru yang tidak terdapat didalam Al-Quran. Dengan demikian, Sunnah (Hadits) berdiri sendiri sebagai sumber dan dalil hukum Islam.

Contoh : Misalnya tentang makanan yang diharamkan. Disebutkan didalam surat Al-Ma’idah ayat 3 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوْا بِالأَزْلاَمِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.

Maka Sunnah (hadits) datang menambahkan hukum lain nya, seperti haramnya memakain daging keledai piaraan, daging binatang buas yang mempunyai taring, burung yang mempunyai kuku tajam. Selain itu juga haram mengenakan kain sutra dan menggunakan perhiasan emas bagi laki – laki. [Dalil – dalilnya akan datang pada bab nya nanti, Insya’ Allah]

Penutup Pembahasan :

Imam asy-Syafi’i Rahimahullah berkata :

“Apa – apa yang telah disunnahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam yang tidak terdapat pada Kitabullah (Al-Quran), maka hal itu juga merupakan hukum Allah juga. Sebagaimana yang telah Allah

Subhanahu wa Ta’ala kabarkan kepada kita didalam firman-Nya :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ .
صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِيْ لَهُ مَا فِيْ السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ ۗ أَلاَ إِلَى اللَّهِ تَصِيْرُ اْلأُمُورُ

“….Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan. [Q.S Asy-Syura ayat 52 – 53]

Semoga bermanfaat.

Penyusun 
Prima Ibnu Firdaus al-Mirluny

Merlung, Selasa 
12 Dzulqo’dah 1439 H
24 Juli 2018 M

Referensi :
Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari.
Shahih Muslim, Imam Muslim.
Sunan At-Tirmidzi, Imam At-Tirmidzi. Takhrij Syaikh Al-Albani.
Sunan Ibnu Majah, Imam Ibnu Majah. Takhrij Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syuaib Al-Arnauth.
Sunan Abu Dawud, Imam Abu Dawud. Takhrij Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syuaib Al-Arnauth.
Musnad Imam Ahmad, Imam Ahmad. Takhrij Syaikh Syu’aib.
Shahih Ibnu Hibban, Imam Ibnu Hibban. Takhrij Syaikh Syu’aib (Al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibnu Hibban).
Al-Mustadrak, Imam Al-Hakim. Takhrij Musthafa Abdul Qadir Atha’.
Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, Syaikh Al-Albani.
Ashlu Shifat Shalat Nabi, Syaikh Al-Albani.
Taisir Musthalah Hadits, Syaikh Dr.Mahmud Thahan.
Ulumul Hadits, Dr.Abdul Majid Khan.
Dan kitab lain nya

0 Comments

Leave a Comment

Radio Salam Jambi

Radio Salam Jambi

Siaran Radio Murotal dan Kajian islam

Informasi Kontak

Jl. Golf II No. 49, RT. 12 Pematang Sulur, Telanaipura, Kota Jambi, Jambi 36124
radiosalamjambi@gmail.com
0821-8062-3333
0821-8062-3333
WhatsApp Hubungi kami